Wednesday, February 25, 2015

ƧINUOUS - Part 3


Alex

Aku tidak bisa mengingat dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi sepuluh tahun lalu. Rasanya seperti menderita amnesia. Hanya saja otakku memilih bagian mana yang tidak ingin kuingat. Aku ingat Rosie dan aku berada di hutan kota. Kami memang sering berjalan bersama dengan salah satu orang tua kami, melewati jalur setapak. Sore itu Mr. Witley yang menemani kami. Yang mampu kuingat hanyalah aku membawa batu besar yang luar biasa berat. Satu hal lain yang bisa kuingat adalah Rosie kecil yang ketakutan. Yang membuatku heran adalah aku yakin sekali bagian itu terjadi sebelum aku membawa batu besar.
            Aku memikirkannya karena seseorang melempariku dengan gumpalan foto kopian koran sepuluh tahun yang lalu saat makan siang. Headline besar berada di depannya. ANAK LELAKI DELAPAN TAHUN MEMBUNUH AYAH TEMANNYA. Aku tak perlu pengingat tolol semacam ini. Aku ingat apa yang sudah kulakukan. Si pelaku benar-benar bertekad. Mencari koran sepuluh tahun yang lalu pasti memerlukan usaha yang ekstra.
            Sisa hari ini berlangsung dengan payah. Orang-orang menjauhiku seperti wabah Black Death di kelas Kalkulus. Stuart yang malang mengompol di celananya saat kelas Kimia. Padahal aku hanya melotot padanya karena ia salah mengukur takaran asam hipoklorit. Kelas Psikologi berikutnya juga tak jauh berbeda.
            “Seorang antisosial identik dengan tindakan kriminal, seperti pembunuhan, misalnya.” Mata Mr. Duvall dengan jelas menatapku. Aku ingin mencongkelnya keluar.
            Persetan dengan semua ini. Bagaimana mereka mengizinkan si tolol ini mengajar Psikologi?
            Makan siang juga tak membuatku gembira. Mereka menyajikan open sandwich, tetapi itu terlihat seperti sepotong roti tawar dengan muntahan di atasnya. Ini membuat makanan di juvenile terlihat sangat menggiurkan. Dan itu bukan pujian. Aku membawa muntahan yang disebut makan siang ini keluar. Tak ada seorang pun yang mau duduk dengan pembunuh tentu saja. Aku duduk di meja piknik di bawah pohon willow. Sendirian. Hingga ada orang yang melempariku dengan gumpalan koran.
            Aku menghabiskan makan siangku sambil menggerutu. Seharusnya hari ini tidak bisa lebih payah, bukan?
            Sepertinya aku salah.
            Saat aku mengembalikan nampan makan siang, cowok yang menyiramkan sodanya mengadangku.
            “Hei,” ujarnya.
            Aku memandangnya balik dengan aura mengancam.
            “Tenang, Dude. Aku minta maaf karena telah menyirammu dengan soda,” kata cowok itu. Topi baseball bodohnya masih bertengger di kepalanya.
            “Kau mau apa?”
            Ia menyodorkan tangannya.
            “Aku James,” ujarnya sambil menyeringai.
            Aku meludah ke tanganku dan menggenggam balik tangannya. James mengernyit, tetapi ia masih berusaha keras untuk tersenyum.
            “Lalu?”
            “Yeah, kau tahu aku mengadakan pesta untuk merayakan tahun ajaran baru Jumat besok. Pestanya bakalan hebat. Aku mengundang semua orang. Termasuk cewek-cewek cantik, kau tahu maksudku?” Ia menggaruk-garuk pipinya. “Dan, er, kupikir akan keren kalau kau mau datang. Maksudku, cewek-cewek itu pasti menganggap, well, seorang pembunuh misterius sepertimu keren.”
            Haha. Aku seharusnya sudah bisa bercinta di gudang sapu jika ada satu cewek yang menganggap pembunuh misterius sepertiku keren.
            “Jadi?” ujarnya penuh harap.
            Aku mengangkat bahu.
            “Apa Rosie ikut?”
            “Man, jika aku bilang semua orang diundang, maksudku semua orang pasti akan muncul di sana. Ini sudah menjadi tradisi kau tahu.”
            “Kita lihat saja nanti,” jawabku singkat.
            James menyeringai kembali.
            “Keren. Sampai nanti, Webbe! Sekali lagi, maaf untuk kausmu. Akan kuberi kau kaus baru besok Jumat.”
            “Tidak sabar,” gumamku. James berbalik dan menghampiri teman-temannya. Sekumpulan atlet yang sepertinya terlewat saat pembagian otak. Mereka terlihat seperti sekumpulan manusia Neanderthal dengan tubuh gigantis dan dahi yang maju. Beberapa dari mereka mencuri pandang ke arahku sambil tersenyum tolol.
            Aku menghela napas lalu berjalan menuju kelas Bahasa Inggris Lanjutan.
            Rosie sudah menunggu di depan pintu kelas. Dadanya bergerak naik turun dengan cepat. Ia terlihat luar biasa gugup.
            “Ha-hai,” katanya. Suaranya begitu lembut dan menggelitik telingaku. Dadaku berdetak sedikit lebih kencang.
            “Oh, hai, bagaimana kau tahu aku ikut kelas ini?”
            “Kau selalu pintar. Kau sudah membaca buku anak SMA saat kau berumur tujuh tahun.”
            Aku tersenyum. Mungkin senyuman pertama sepanjang hari ini.
            “Kau baik-baik saja?” tanyaku.
            Rosie hanya mengedikkan bahu. Bibirnya menyunggingkan senyum pahit.
            “Maafkan aku,” kataku.
            “Untuk apa?” tanyanya sedikit gemetar.
            “Semuanya. Kesulitan yang kutimbulkan dalam hidupmu.”
            Rosie terperangah. Ia mengecek arlojinya. Itu suatu bahasa tubuh yang orang gunakan untuk mengakhiri percakapan dengan orang lain.
            “Aku harus bergegas ke kelas Inggris-ku. Yang biasa saja. Tidak lanjutan sepertimu.” Rosie tertawa hampa.  “Sampai nanti.”
            Setelah beberapa langkah, aku memanggil namanya.
            Ia berhenti.
            “Ya?” balasnya dengan suara merdu.
            “Kau datang ke pesta James?”
            Rosie menggigit bibirnya.
            “Mungkin. Entahlah. Aku tak terlalu suka keramaian.”
            “Apa kau datang jika aku datang?”
            Air mukanya berubah menjadi pucat.
            “Mungkin.”
            Ia kemudian berbalik dan hilang di balik kerumunan anak-anak lain.

            Mungkin bukan ide yang baik. Itu tadi terdengar seperti ancaman. 

No comments:

Post a Comment